Minggu, 20 Januari 2013

Konvensi Naskah

      Pengertian
Konvensi Naskah dapat diartikan sebagai suatu bentuk penulisan naskah dari karangan ilmiah berdasarkan kebiasaan, aturan yang sudah lazim pada umumnya, dan sudah disepakati. Konvensi itu sendiri merupakan kesepakatan, kebiasaan atau sebuah aturan yang dijadikan sebagai pedoman dan aturan khusus yang lazim digunakan. Sedangkan naskah merupakan karangan yang dapat diartikan sebagai Skenario.

Jenis-Jenis dari Naskah
  1. Naskah Formal : Naskah yang mematuhi semua persyaratan yang dituntut oleh konvensi
  2. Naskah Semi-Formal : Naskah yang tidak memenuhi semua persyaratan yang dituntut oleh konvensi.
  3. Naskah Informal : Naskah yang tidak memenuhi semua persyaratan yang dituntut oleh konvensi.
       Tata cara penulisan pada Naskah
  1. Judul ditulisan harus menggunakan huruf kapital, cetak tebal dan aligment center.
  2. Nama penulis (tanpa gelar) ditulis 2 spasi di bawah judul menggunakan jenis huruf Arial 10 pt cetak tebal dan aligment center.
  3. Alamat institusi penulis ditulis 1 spasi di bawah nama penulis juga menggunakan jenis huruf Arial 8 pt cetak regular dan aligment center.
  4. Abstrak ditulis dalam Bahasa Inggris dan Indonesia dengan huruf Arial 9 pt, 1 spasi cetak regular dan aligment justify.
  5. Kata kunci ditulis 1,5 spasi setelah Abstrak, berisiskan kata-kata penting yang menjadi kata-kata kunci di dalam naskah (antara 3 - 5 kata kunci).
  6. Sistematika Naskah (tanpa lampiran): terdiri dari ABSTRAK, PENDAHULUAN, BAGIAN INTI (untuk naskah konseptual berisi kajian pustaka dan uraian analisis, sedangkan untuk naskah hasil penelitian berisi kajian pustaka, hasil dan pembahasan), dan PENUTUP (berisi kesimpulan dan saran atau bisa ditambahkan rekomendasi), serta DAFTAR PUSTAKA. Naskah ditulis dengan jenis huruf Arial 10 pt, 1,5 spasi cetak regular dan aligment justify.
  7. Gambar, Persamaan, dan Tabel diberi judul/keterangan serta nomor urut yang berketentuan.
  8. Penulisan daftar pustaka diurutkan sesuai alpabetis dengan jenis huruf Arial 10 pt.
  9. Ukuran kertas A4 (210 x 297) mm dengan batas tepi (margin) atas 2,5 cm, batas tepi bawah 3,5 cm, dan batas tepi kanan dan kiri masing-masing 2,5 cm. Untuk lebar header 0 cm dan footer 2 cm.
  10. Setting halaman adalah dua kolom dengan jarak antar kolom 0,8 cm dan lebar kolom 7,6 cm.
  11. Setiap alenia baru ditulis dengan mengosongkan selebar 1,25 cm dari pias depan.
Isi Konvensi Naskah sebagai berikut:
  • Kelengkapan awal
    Terdiri dari bagian/kulit luar (cover), halaman judul, halaman pengesahan, halaman penerimaan, halaman persembahan, abstrak, kata pengantar, daftar table, daftar grafik atau daftar gambar (jika ada), daftar singkatan dan lambang dan daftar lampiran.
  • Kelengkapan isi
    Terdiri dari pendahuluan, tubuh karangan yang meliputi kajian teori, seputar lokasi objek penelitian, pembahasan, dan yang terakhir berupa kesimpulan (penutup).
  • Kelengkapan akhir
    Terdiri dari daftar pustaka, lampiran data, penulisan indeks, dan riwayat hidup.

Bagian pada Kelengkapan Awal:
  • Halaman Judul Pendahuluan
  • Halaman Pengesahan
  • Halaman Persembahan
  • Kata Pengantar
Isi Kata Pengantar:
  • Ucapan syukur.
  • Penjelasan adanya tugas penulisan karya ilmiah.
  • Penjelasan pelaksanaan penulisan karya ilmiah
  • Penjelasan adanya bantuan, bimbingan dan arahan dari seseorang, sekelompok orang, atau organisasi/lembaga.
  • Penyebutan nama kota, tanggal, bulan, tahun, dan nama lengkap penulis tanpa dibubuhi tanda-tangan.
  • Harapan penulis atas karangan tersebut.
  • Manfaat bagi pembaca serta kesediaan menerima kritik dan saran.

Sumber:
https://sites.google.com/site/jtspunnes/Beranda/persyaratan-dan-tata-cara-penulisan-naskah 
http://dewisofia03.wordpress.com/2012/11/27/konvensi-naskah/


Sabtu, 19 Januari 2013

MEMBEDAKAN TEMA, TOPIK DAN JUDUL


TEMA

Pengertian tema adalah sesuatu yang telah diuraikan atau sesuatu yang telah ditempatkan. Kata “tema” berasal dari bahasa Yunani tithenai yang berarti menempatkan atau meletakkan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tema disebut sebagai pokok pikiran, dasar cerita. Dan yang diajarkan di sekolah dalam pelajaran bahasa Indonesia tema merupakan suatu gagasan pokok atau ide pikiran dalam membuat suatu tulisan.

Ciri-ciri tema yang baik antara lain:
  • Tema menarik perhatian penulis.
    Dapat membuat seorang penulis berusaha terus-menerus untuk membuat tulisan atau karangan yang berkaitan dengan tema tersebut.
  • Tema dikenal/diketahui dengan baik.
    Pengetahuan yang dimilki oleh penulis tetang tema tersebut sudah dikuasainya, agar lebih mudah dalam penulisan tulisan/karangan.
  • Bahan-bahannya dapat diperoleh.
    Sebuah tema yang baik harus dapat dipikirkan apakah bahannya cukup tersedia di sekitar kita atau tidak. Bila cukup tersedia, hal ini memungkinkan penulis untuk dapat memperolehnya kemudian mempelajari dan menguasai sepenuhnya.
  • Tema dibatasi ruang lingkupnya.
    Tema harus sesuai kemampuan/umum.

TOPIK

Pengertian Topik adalah berasal dari bahasa Yunani “topoi” yang berarti tempat, dalam tulis menulis bebarti pokok pembicaraan atau sesuatu yang menjadi landasan penulisan suatu artikel. Topik atau masalah adalah pokok pembicaraan. Bagian kalimat yang diutamakan menjadi topik bisa dari ; kerangka yang bersangkutan dengan ruang, waktu, dan benda. Penulis lebih baik menulis hal-hal yang sifatnya menarik bagi penulis sendiri dengan pokok persoalan yang benar-benar diketahui dan dipahami matang-matang.

Berikut hal-hal yang dipertimbangkan dalam memilih topik.
  1. Topik yang dipilih harus berada di sekitar penulis, yaitu disekitar pengalaman penulis maupun disekitar pengetahuan penulis.
  2. Topik yang dipilih hendaknya yang menarik perhatian penulis
  1. Topik yang dipilih berpusat pada suatu segi lingkup yang sempit dan terbatas.
  1. Topik yang dipilih memiliki data dan fakta yang objektif, bukan subjektif seperti angan-angan.
  1. Topik yang dipilih harus diketahui prinsip-prinsip ilmiahnya walaupun serba sedikit. Artinya, topik yang dipilih janganlah terlalu baru bagi penulis.
  1. Topik yang dipilih harus memiliki acuan berupa bahan kepustakaan yang akan memberikan informasi tentang pokok persoalan yang akan ditulis.
  2. Topik yang dipilih harus bermanfaat.

Sumber – sumber mendapatkan topik:
  1. Percakapan lingkungan masyarakat.
  2. Orang yang lebih tua.
  3. Guru atau dosen.
  4. Pengalaman.
  5. Berita di media elektronik maupun media cetak.
JUDUL

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, judul adalah nama yang dipakai untuk nama buku atau bab dalam buku yang dapat menyiratkan secara pendek isi atau maksud buku. Dalam suatu karya ilmiah harus berbentuk frasa, bukan kalimat atau kata. Pengertian lain tentang judul, yaitu Judul merupakan nama yang dipakai untuk buku, bab dalam buku, kepala berita, dan lain-lain; identitas atau cermin dari jiwa seluruh karya tulis, bersifat menjelaskan diri dan yang manarik perhatian atau menentukan wilayah (lokasi).

Berikut beberapa syarat aturan pemilihan judul :
  1. Harus relevan, yaitu harus mempunyai pertalian dengan temanya, atau ada pertalian dengan beberapa bagian penting dari tema tersebut.
  2. Harus provokatif, yaitu harus menarik dengan sedemikian rupa sehingga menimbulkan keinginan tahu atau penasaran bagi tiap pembaca terhadap isi buku atau karangan dan membaca sampai akhir tulisan.
  3. Harus singkat, yaitu tidak boleh mengambil bentuk kalimat atau frasa yang panjang, tetapi harus berbentuk kata atau rangkaian kata yang singkat. Usahakan judul tidak lebih dari lima kata.
KESIMPULAN
Perbedaan antara Tema, Topik, dan Judul ialah,
  1. Tema merupakan pokok pemikiran, ide atau gagasan tertentu yang akan disampaikan oleh penulis sebagai dasar karangannya.
  2. Topik merupakan pokok pembicaraan dalam karangan tentang segala yang berhubungan dari tema dan judulnya
  3. Judul merupakan kepala karangan atau perincian atau penjabaran dari topik dan judul dapat juga merupakan nama yang dipakai untuk buku atau bab.


http://kurniahidayati.wordpress.com/2011/06/16/tema-topik-dan-judul/

Selasa, 13 November 2012

paragraf atau anelia


A.      PENGERTIAN PARAGRAF atau ALINEA

   Paragraf atau Alinea adalah kumpulan dari beberapa kalimat yang membahas satu topik yang mengacu pada satu gagasan pokok. Topik disampaikan ke dalam suatu kalimat yang disebut dengan kalimat topik atau kalimat utama, sedangkan kalimat yang menjelaskan kalimat topik disebut kalimat penjelas. Panjang pendeknya suatu paragraph akan ditentukan oleh banyak sedikitnya gagasan pokok yang diungkapkan. Bila segi-seginya banyak, memang layak kalau alenianya sedikit lebih panjang, tetapi seandainya sedikit tentu cukup dengan beberapa kalimat saja.

B.      SYARAT-SYARAT PEMBENTUKAN PARAGRAF

a.       Kesatuan yaitu semua kalimat dalam paragraf  itu secara bersama-sama mendukung satu ide atau gagasan pokok. Jadi, tidak boleh ada kalimat sumbang atau menyimpang dari pikiran utamanya. 

   Contoh paragraf berkalimat sumbang:
Hari akan hujan. Angin bertiup kencang. Debu-debu beterbangan. Awan hitam bergerak  dengan cepat. Burung-burung berkicau riang. Para nelayan segera sibuk meneti dari laut.

b.      Koherensi yaitu kepaduan atau kekompakan hubungan antara kalimat satu dengan kalimat lain dalam paragraf tersebut. Kepaduan kalimat dalam suatu paragraf dapat dijalin dengan penanda hubungan, baik penanda hubungan eksplisit maupun implisit.

a.    Penanda Hubungan secara Eksplisit

1.       pengulangan kata

Contoh:

Semua isi alam ini adalah makhluk, artinya ciptaan Tuhan. Ciptaan Tuhan yang paling sempurna dan  paling mulia adalah manusia. Manusia diizinkan oleh Tuhan memanfaatkan semua isi alam ini untuk keperluan hidupnya. Akan tetapi, tidak diizinkan menyakiti, menyiksa, dan menyia-nyiakan.

2.        kata ganti

Contoh:

Dimas anak Pak Syarif. Sekarang ia mahasiswa tingkat 3. Tiap pagi dia berangkat ke Kampus bersama temannya. Mereka berangkat dan pulang bersama-sama.

3.       kata-kata penghubung

Contoh:

Semalam suntuk Lukman nonton bareng pertandingan sepakbola di warkop. Oleh karena itu, ia bangun kesiangan. Akibatnya, ia telat ke Kampus.

b.    Penanda Hubungan secara Implisit

Contoh:

Matahari belum tinggi benar, baru sepenggalan. Sinarnya yang keemasan membuat suasana sangat cerah. Angin segar bertiup sepoi-sepoi basamenggerak-gerakkan daun pepohonan. Burung-burung pun berkicau riang. Tampak segalanya indah.

C.      Macam-macam paragraf/anelia

Letak Kalimat Utama
a.       pengertian paragraf induktif adalah paragraf yang dimulai dengan menyebutkan peristiwa-peristiwa yang khusus, untuk menuju kepada kesimpulan umum, yang mencakup semua peristiwa khusus di atas.
b.      pengertian paragraf deduktif adalah paragraf yang dimulai dari hal-hal yang bersifat umum ke hal yang lebih khusus. Gagasan utama terletak pada kalimat pertama dalam suatu paragraf.
c.       pengertian paragraf campuran adalah paragraf yang gagasan utamanya terletak di awal dan akhir paragraf

contoh paragraf induktif
Dengan berkembangnya teknologi komunikasi melalui televisi, waktu anak-anaak membaca buku sangat berkurang. Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa televisi menyala rata-rata selama tujuh seperempat jam setiap hari. Padahal seorang dokter spesialis anak dan pakar peneliti dalam bidang perkembangan anak dari Universitas Harvard, dr. Berry Brazelton, mengemukakan baahwa satu jam merupakan batas menonnton maksimal bagi anak-anak usia lima sampai enam tahun. Lebih dari satu jam, tayangan-tayangan televisi menjadi semacam racun yang mereduksi kemampuan daya nalar dan kemampuan berpikir kritis dan ilmiah. Oleh karena itu, hal yang sangat diperlukan dalam membaca buku, selain ketersediaan buku, ialah waktu.

contoh paragraf deduktif
Isle Royale, pulau terbesar di Danau Superior, Amerika Serikat, merupakan rumah bagi sejumlah binatang yang secara alamiah bermusuhan. Rusa besar yang gemar makan tumbuh-tumbuhan dan serigala yang gemar memangsa rusa besar sudah hidup berdampingaan di situ selama lebih dari 50 tahun.

contoh paragraf campuran
Saat ini Indonesia sedang berusaha membangkitkan perekonomiannya.Banyak usaha yang dilakukan, mulai dari menekan jumlah barang import yang mengalahkan pemakaian barang lokal. Pemerintah juga meluaskan lapangan pekerjaan, agar sumber daya manusia (SDM) dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk pembangunan Negara. Bagia pelaku korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang sangat merugikan perekonomian Negara tentunya akan diberikan sanksi tegas. Karna yang kita ketahui Indonesia terpuruk akibat KKN yang terjadi di segala institusi. Oleh karena itu, dengan usaha yang dilakukan sekarang diharapkan Indonesia dapat membangkitkan perekonomiannya.

Isi/Tujuan

1.       Paragraf Narasi merupakan salah satu jenis paragraf yang mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa berdasarkan urutan waktu. Paragraf narasi terdiri atas narasi kejadian dan narasi runtut cerita.
Contoh Paragraf Narasi :
Liburan Idul Adha beberapa hari yang lalu, saya dan kakak pulang kampung ke Semarang. Semarang merupakan ibu kota Provinsi Jawa Tengah.

2.       Paragraf Deskripsi : Karangan ini berisi gambaran mengenai suatu hal/keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan hal tersebut.
Contoh Paragraf Deskripsi :
Pemandangan Pantai Ancol - Jakarta sangat mempesona. Tempatnya bersih dan tertata rapi. Banyaknya wisatawan yang selalu mengunjungi Pantai Ancol ini membuat pantai ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Di pantai Ancol ini kita bisa bermain pasir, merasakan hembusan segar angin laut dan melihat Sunset di jembatan di atas pantai.

3.       Paragraf argumentasi adalah sebuah paragraf yang menjelaskan pendapat dengan berbagai keterangan dan alasan.
Contoh Paragraf Argumentasi 
Pendidikan gratis hanya janji yang bergema luas saat kampanye dan pemilihan pimpinan daerah maupun pusat. Saat pemilihan usai akan lain ceritanya. Anak-anak miskin di kota, desa, dan pedalaman tetap mengalami kesulitan untuk mengakses pendidikan yang layak.

4.       Paragraf Persuasi adalah paragraf yang berisi ajakan.
Contoh Paragraf Persuarsi 
Pendidikan merupakan salah satu sarana untuk menghasilkan penduduk yang berkualitas sebagai modal pembangunan. Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh bagi penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang amat sangat penting di era global  ini. Oleh karena itu, sudah menjadi tanggungjawab seluruh komponen bangsa untuk membantu mereka yang membutuhkan dalam memperoleh pendidikan agar bangsa ini semakin maju dan tidak tertinggal.

Minggu, 04 November 2012

Kalimat Efektif

Pengertian
Kalimat efektif ialah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti gagasan yang ada pada pikiran pembicara atau penulis. Kalimat dikatakan efektif apabila berhasil sampaikan kepada pendengar atau pembaca yang berupa pesan, gagasan, perasaan, maupun pemberitahuan sesuai maksud si penyampai kalimat yaitu pembicara atau penulis.

Kalimat efektif adalah kalimat yang terdiri atas kata-kata yang mempunyai unsur SPOK atau kalimat yang mempunyai ide atau gagasan pembicara/penulis dan kalimat tersebut mengutamakan keefektifan informasi sehingga jelas dan terjamin.

Kalimat efektif dituntut oleh empat ketepatan yakni :
1. Ketepatan pilihan kata
2. Ketepatan bentuk kata
3. Ketepatan pola kalimat 
4. Ketepatan makna kalimat

Ciri-ciri dari Kalimat Efektif :
a)    Memiliki unsur penting atau pokok, minimal unsur SP.
b)   Taat terhadap tata aturan ejaan yang berlaku.
c)    Menggunakan diksi yang tepat.
d)   Menggunakan kesepadanan antara struktur bahasa dan jalan pikiran yang logis dan sistematis.
e)    Menggunakan kesejajaran bentuk bahasa yang dipakai.
f)     Melakukan penekanan ide pokok.
g)    Mengacu pada kehematan penggunaan kata.
h)   Menggunakan variasi struktur kalimat.

Syarat-syarat Kalimat Efektif :
1)   Koherensi / kepaduan
Kepaduan ialah informasi yang disampaikan itu tidak terpecah-pecah atau terpotong. Kallimat itu juga tidak bertele-tele dan harus sistematis. Diantara predikat kata kerja dan objek penderita tidak disisipkan kata daripada/tentang. Hubungan timbal balik yang baik dan jelas antara unsur-unsur (kata atau kelompok kata) yang membentuk kalimat itu. Bagaimana hubungan antara subyek dan predikat, hubungan antara predikat dengan obyek, serta keterangan-keterangan lain yang menjelaskan tiap-tiap unsur pokok tadi.

Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan kerusakan koherensi yaitu:

1)   Tempat kata dalam kalimat tidak sesuai dengan pola kalimat
Benar : Saudara saya yang paling kecil kemarin sore menendang bola di lapangan, dengan sekuat tenanganya.Salah : Saudara saya yang paling kecil menendang dengan sekuat tenaganya kemarin sore di lapangan bola.

2)   Salah mempergunakan kata-kata depan, kata penghubung dan sebagainya
Benar : mengharap akan belas kasihan
Salah : mengharapkan akan belas kasihan

3)   Pemakaian kata, baik karena merangkaikan dua kata yang maknanya tidak tumpang tindih, atau hakikatnya mengandung kontradiksi.
Banyak para peninjau yang menyatakan bahwa perang yang sedang berlangsung itu merupakan Perang Dunia di Timur Tengah (atau banyak peninjau atau para peninjau; makna banyak dan para tidak tumpang tindih).

4)   Salah menempatkan keterangan aspek (sudah, telah, akan, belum, dsb) pada kata kerja tanggap.
Baik : Saya telah menonton film itu hingga tamat.
Kurang Baik : Saya telah nonton film itu hingga tamat.
Tidak Baik : Film itu saya telah tonton hingga tamat.

2)   Keparalelan
Yang dimaksud dengan keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Artinya, jika kata kerja, harus kata kerja semuanya; jika kata benda harus katabenda semuanya.
Contoh :
Salah : Harga bensin disesuaikan atau kenaikkan secara bertahap.
Benar : Harga bensin disesuaikan atau dinaikkan secara bertahap.


3)   Kehematan
Kehematan adalah penggunaan kata-kata secara hemat, tetapi tidak mengurangi makna atau mengubah informasi.
Ada beberapa cara melakukan penghematan :

1)   Menghilangkan pengulangan subjek.
Salah : Karena Joko tidak diundang, Joko tidak datang ke tempat itu.
Benar : Karena tidak diundang, Joko tidak datang ke tempat itu.

2)   Menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata.
Kata Apel sudah mencakupi kata buah.
Contoh :
Salah : Di mana engkau membeli buah apel itu?
Benar : Di mana engkau membeli apel itu?

3)   Menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.
Kata naik bersinonim dengan ke atas.
Contoh :
Salah : Roni sudah naik ke atas gunung sejak pagi tadi.
Benar : Roni sudah naik gunung sejak pagi tadi.

4)   Tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak.
Contoh :
Salah : Para tamu-tamu memasuki aula pertemuan.
Benar : Para tamu memasuki aula pertemuan.

4)   Penekanan / ketegasan
Yang dimaksud dengan ketegasan atau penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Kalimat itu memberi penekanan atau penegasan pada penonjolan itu.

Ada berbagai cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat, yaitu :
1.   Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat).
Contoh:
Presiden menghimbau agar rakyatnya melakukan penghijauan dengan menanam minimal 1 pohon di pekarangan rumah.

2.   Membuat urutan kata yang bertahap
Contoh:
Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta orang, datang ke stadion Allianz Arena untuk menonton final liga champion .

3.   Melakukan pengulangan kata (repetisi).
Contoh:
Saya suka kecantikan mereka, saya suka akan kelembutan mereka.

4.   Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
Contoh:
Anak itu tidak malas dan bodoh, tetapi rajin dan pintar.

5.   Mempergunakan partikel penekanan (penegasan).
Contoh:
Andalah yang bertanggung jawab atas kerusakan tv ini.

7. Kecermatan
Cermati adalah kalimat yang dihasilkan tidak menimbulkan tafsir ganda dan harus tepat diksinya. Prinsip kecermatan berarti cermat dan tepat menggunakan diksi. Agar tercapai kecermatan dan ketepatan diksi, harus memperhatikan pernyataan-pernyataan berikut ini :
1) Hindari penanggalan awalan
2) Hindari peluluhan bunyi/ c /
3) Hindari bunyi / s /, / p /, / t /, dan/ k / yang tidak luluh
4) Hindari pemakaian kata ambigu

8. Kevariasian
Variasi merupakan suatu upaya yang bertolak belakang dengan repetisi. Repetisi atau pengulangan kata sebuah kata untuk memperoleh efek penekanan, lebih banyak menekankan kesamaan bentuk. Variasi tidak lain daripada menganeka-ragamkan bentuk-bentuk bahas agar tetap terpelihara minat dan perhatian orang.

Macam-macam variasi :
a.   Variasi Sinonim Kata
Variasi berupa penjelasan yang berbentuk kelompok kata pada hakekatnya tidak merubah isi dari amanat yang akan disampaikan.
Contoh : Dari renungan itulah penyair menemukan suatu makna, suatu realitas yang baru, suatu kebenaran yang menjadi ide sentral yang menjiwai seluruh puisi.

b.   Variasi panjang pendeknya kalimat
Struktur kalimat akan mencerminkan dengan jelas pikiran pengarang, serta pilihan yng tepat dari struktur panjangnya sebuah kalimat dapat member tekanan pada bagian-bagian yang diinginkan.

c.   Variasi penggunaan bentuk me- dan di-
Pemakaian bentuk grametikal yang sama dengan beberapa kalimat berturut-turut dapat menimbulkan kelesuan. Sebaba itu haruslah dicari variasi pemakaian bentuk gramatikal.

Kesalahan-kesalahan dalam menyusun kalimat efektif :
a.   Pleonastis
Pleonastis atau pleonasme adalah pemakaian kata yang mubazir (berlebihan), yang sebenarnya tidak perlu.
Contoh :
Salah : Banyak tombol-tombol yang dapat Anda gunakan.
Benar : Banyak tombol yang dapat Anda gunakan.

b.   Kontaminasi
Salah : Fitur terbarunya Adobe Photoshop ini lebih menarik dan bervariasi.
Benar : Fitur terbaru Adobe Photoshop ini lebih menarik dan bervariasi.

c.   Salah pemilihan kata
Salah : Saya mengetahui kalau ia kecewa.
Benar : Saya mengetahui bahwa ia kecewa.

d.   Salah nalar
Salah : Bola gagal masuk gawang.
Benar : Bola tidak masuk gawang.

e.   Pengaruh bahasa asing atau daerah (interferensi)
Bahasa asing
Contoh :
Saya tinggal di Semarang di mana ibu saya bekerja.

Kalimat ini bisa jadi mendapatkan pengaruh bahasa Inggris, lihat terjemahan kalimat berikut:
I live in Semarang where my mother works.

Dalam bahasa Indonesia sebaiknya kalimat tersebut menjadi:
Saya tinggal di Semarang tempat ibu saya bekerja.

Bahasa daerah
Contoh :
Anak-anak sudah pada datang.

Dalam bahasa Indonesia sebaiknya kalimat tersebut menjadi:
Anak-anak sudah datang.

f.    Kata depan yang tidak perlu
Salah : Di program ini menyediakan berbagai fitur terbaru.
Benar : Program ini menyediakan berbagai fitur terbaru.

Ada beberapa hal yang mengakibatkan suatu tuturan menjadi kurang efektif, antara lain:
1. Kurang padunya kesatuan gagasan.
2. Kurang ekonomis pemakaian kata.
3. Kurang logis susunan gagasannya.
4. Pemakaian kata-kata yang kurang sesuai ragam bahasanya.
5. Konstruksi yang bermakna ganda.
6. Penyusunan kalimat yang kurang cermat.
7. Bentuk kata dalam perincian yang tidak sejajar.


Sumber :

Judul Lain